SekolahSG Profiles: Vanessa Singgih Pranoto

Vanessa_featuredImage

Setelah lulus dari LASALLE College of the Arts, Vanessa Singgih Pranoto memulai kariernya di bidang arts management dengan menjadi project manager di studio seorang seniman Singapura. Kemarin ini, SekolahSG ngobrol dengan Vanessa tentang alasannya memilih Arts Management, peran orangtuanya dalam memilih jurusan yang benar, dan cita-citanya menjadi kurator di museum.

Coba cerita sedikit tentang diri lo.

Halo, saya Vanessa dari Jakarta. Dulu di Jakarta SMA di Santa Ursula BSD, ambil IPS, terus kuliah di LASALLE College of the Arts, ambil Arts Management. Sekarang gue kerja jadi project manager di studio seorang seniman Singapura. Bos gue itu terkenal dengan patung-patung cabai paprikanya yang larger than life dan tersebar di beberapa lokasi di Singapura. Selain patung, dia juga bikin lukisan dan art installations.

Biasanya lo tiap hari ngapain aja di kantor?

Sampai kantor bikin kopi. Harus banget! Terus buka email, dan kerjain apapun yang mesti gue kelarin hari itu, dari hal-hal administratif, inventaris, faktur penjualan sampai update berkala untuk tiap project klien. Biarpun titel pekerjaan gue hanya Project Manager, tapi kerjaan gue mencakup juga hal-hal yang gak ada hubungannya sama project management. Untuk project management, gue harus mastiin sang seniman bisa selesai kerjaannya tepat waktu, sesuai jadwal yang tertera di kontrak atau perjanjian.

Apakah elo juga ikut dalam proses pembuatan karya seninya?

Cuma sampai taraf tertentu. Intinya, pas dia buat karya baru, dia pasti minta pendapat dari orang-orang, jadi gue dan orang-orang kantor gue biasanya ikut kasih masukan untuk konsep yang diusulin sama si seniman, supaya pesan/konsep yang dia mau sampein itu bisa dicerna klien. Karena, ada kemungkinan sebuah karya seni bisa jadi sesuatu hal yang absurd buat publik.

Biasanya, kita liat karya seni yang sebelumnya udah diproduksi: apakah bisa dikembangin dari konsep atau bentuk dasar untuk memenuhi atau sesuai dengan kriteria klien? Kalau gak ada yang cocok, atau memang dari awal konsep yang diminta berbeda dengan konsep-konsep yang pernah kita eksplor, kita brainstorm ide-ide baru deh. Untuk pembuatannya sendiri, si seniman sendiri yang turun tangan ke bengkel di Ayutthaya, Thailand, karena percaya gak percaya, di Singapur gak ada bengkel besar yang bikin barang-barang dari perunggu. Dia ke sana untuk mastiin bahwa tiap tahap produksi terpenuhi. Tim kami memang ada bakat OCD (obsessive-compulsive disorder) sih. Hehe!

Kira-kira 99% dari yang gue kerjain itu baru buat gue. Hal-hal ini yang bikin gue bener-bener pengen coba kerja di studio seniman ini.

Segede apa sih perusahaannya? Dan segede apa tim lo?

Perusahaannya sebenernya kecil banget. Di studio, cuma ada 3 orang — gue, si seniman dan 1 teknisi. Ada 1 orang lagi yang atur bisnis sampingan perusahaan gue, yaitu membuat barang rumah tangga yang desainnya terinspirasi dari beberapa karya seni seniman ini.

Apa yang lo suka sama pekerjaan lo?

Gue suka karena gue di LASALLE ambil performing arts management, sementara sekarang ini yang gue kerjain adalah visual arts management. Beberapa hal ada yang beda, tapi ada beberapa hal teknis yang sama kayak performing arts. Tapi kira-kira 99% dari yang gue kerjain itu baru buat gue. Hal-hal ini yang bikin gue bener-bener pengen coba kerja di studio seniman ini. Gue pengen eksplor banyak tentang visual arts management karena gue pengen jadi manajer yang versatile dan resourceful.

Apa yang lo gak suka?

Gue gak suka kerja sendiri. Kadang-kadang kerjaannya suka heboh dan terlalu banyak untuk dipegang sendiri. Tapi mungkin karena gue orangnya juga lebih suka berinteraksi, dan si seniman ini umurnya terpaut jauh sama umur gue. Dia bisa jadi nenek gue. Jadi kadang kalo di luar kerjaan, gue ngerasa agak susah kalo mau ngobrol. Tapi untung juga sekarang ada orang kantor satu lagi, yang kerjain bisnis sampingan. Meskipun dia juga lebih tua 20 tahun dari gue.

Pilihan karier lo gak bisa dibilang tradisional. Pernah galau gak?

Gue gak pernah nyesel. Gue dari dulu memang suka banget dengan hal-hal yang berbau seni. Dari desain, gambar, apalagi warna. Seneng banget kalo liatin warna. Karena itu, gue dulu pengen banget ngambil Desain Komunikasi Visual (DKV). Gue waktu itu sempet dapet PMDK di Universitas Pelita Harapan (UPH), tapi bokap gue bilang, tunggu dulu, karena waktu itu baru September/Oktober. Gue bilang sama bokap, ambil aja, karena waktu itu gue lagi suka desain. Tapi bokap gue tetep kekeuh dan bilang, “Kamu yakin mau ambil? Kenapa gak coba eksplor yang lain?” Dan bokap gue tau, susahnya kerja di desain itu lo gak boleh keabisan ide. Pas waktu itu juga, jurusan DKV lagi booming berat dan bikin kompetisi makin kuat buat desainer. Jadi ya udah, gue mikir-mikir lagi.

Terus bokap gue bilang, coba kamu eksplor manajemen, karena di satu sisi dia ngeliat kalo gue cukup oke dalam bidang itu. Gue dari SMP aktif banget di sekolah, kayak OSIS, acara olahraga, prom. Di gereja juga gue aktif banget, sampai nyokap gue kayak, “Weekend kamu gak ada acara sama keluarga sama sekali, ke gereja terus!” Jadi mungkin dari perspektif itu, dia liat kalo mungkin manajemen lebih cocok buat gue. Jadinya terus gue daftar Universitas Parahyangan (Unpar).

Vanessa

Lo daftar apa di Unpar?

Manajemen, di Unpar sama di Atma Jaya. Beda banget kan? Akhirnya gue drop Atma, dan pas Unpar udah mau diterima, kita, gak tau kebetulan atau iseng, pergi ke salah satu pameran pendidikan internasional, terus ketemu lah ini booth LASALLE. Gue gak sadar sama sekali, tapi bokap gue ambil brosur terus baca-baca. Terus sampai rumah dia bilang, “Eh ini ada Arts Management, menarik banget, di Indo gak ada. Baca deh.”

Terus gue baca, menarik juga ya. Gue bisa jadi event organizer (EO), dan gue bisa urus konser musik gitu. Bayangan variasi pekerjaan yang bisa gue lakuin pas nemu jurusan ini bikin gue all excited tanpa mikir babibu. Pokoknya gue yakin banget deh mau ambil jurusan ini. Sampai karena yakin banget, waktu masuk tahun pertama di LASALLE, kan elo masuk Foundation dulu, di mana lo bisa coba semuanya, dari 3D, Animation, sampai Drawing, segala macem, baru dari situ mulai mikir mau ambil yang mana. Ada beberapa temen gue yang akhirnya ambil jurusan yang beda setelah Foundation, tapi gue dari awal udah yakin ambil Arts Management.

Apa menurut lo peran orangtua lo sejak sekolah sampai sekarang berkarier?

Mendorong gue ke jurusan yang sesuai minat gue. Kalo gak, mungkin gue sekarang bakal kerja kantoran biasa, dan kerjaan gue cuma di balik meja, nungguin makan siang. Mungkin gue bisa gaji buta di kantor, kerja cuma karena emang gue harus kerja dan cari duit sendiri.

Apa yang menurut lo bikin sekolah dan kerja di Singapura berbeda sama Indonesia?

Gue jujur gak bisa bedain, karena gue gak pernah kuliah di Indonesia. Kalo kerja di Singapur itu tergantung juga, tergantung lingkungan pekerjaan lo gimana. Kalo untuk gue, mungkin kerjaan yang gue lakukan bakal lebih seru kalo dilakukan di Indo. Seniman-seniman Indo itu punya potensi banyak banget yang bisa dieksplor.

Jangan males. Lo bisa Google sekarang, lo bisa eksplor banyak hal. Ya, lo harus bisa lah.

Ada nasihat buat diri lo saat umur 16?

Gue kayaknya dulu labil banget. Malu gue.

Emang dulu lo kayak gimana pas umur 16 atau 17?

Super alay men! Plis jangan jadi orang alay!

Lo bakal kasih nasihat apa buat dia?

Get your act together dan jangan plin plan. Lo harus tau apa yang lo beneran pengen, dan jangan takut ambil setiap kesempatan yang lo dapet. Karena siapa tau? Bisa aja jadi sesuatu yang besar. Gue cukup beruntung karena orangtua gue super terlibat.

Dan satu lagi: jangan males. Lo bisa Google sekarang, lo bisa eksplor banyak hal. Ya, lo harus bisa lah. Sekarang tuh yang namanya “gak bisa” tuh gak ada. Caelah, kok gue ngomongnya jadi kayak gini sih? Everything is possible man!

Apa tujuan lo selanjutnya?

Gue suka banget sama kultur. Kayak gue tuh kalo jalan-jalan mau liat kuil, cobain makanan lokalnya gimana, liat kulturnya kayak gimana. Jadi, salah satu cita-cita gue adalah kerja di museum sebagai kurator, karena menurut gue museum itu asik, dan gue mau bikin museum tambah asik lagi untuk pengunjung. Apalagi kalau gue sampai harus balik lagi ke Indo, pengen banget bikin pameran-pameran tentang kultur-kultur Indo. Pasti seru.

Tapi gue tau kalo lo mau jadi kurator, lo minimal harus punya master’s degree. Mungkin itulah tujuan gue selanjutnya. Gue pengen coba ke School of Oriental and African Studies (SOAS) di Inggris ambil Southeast Asian Studies atau Art History. Ya ampun Tuhan amin!

About the Author

Putra likes to write stuff, eat carbohydrates and ponder the meaning of life (sometimes in that order).

Artikel Terbaru

  • Dinda

    cantik, pinter lagi.. Go Vanessa!

comments powered by Disqus