Scholar4id – Beasiswa untuk Indonesia

surakarta_resized

Scholar4ID judges, evaluating a scholarship candidate

“Apa yang paling penting adalah kebutuhan untuk mendidik orang. Negara kami (Indonesia) adalah negara demokrasi, namun warga negara kita masih belum siap untuk menerima sistem ini…. apa pun yang kurang di Indonesia, semuanya dapat ditingkatkan jika orang mau berpikir dan menerima…”- Dimas Harry Priawan, pembina dari Scholar4id

Demikian gagasan yang menyebabkan lahirnya Scholar4id.  Dimas Harry Priawan, siswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Singapura, Scholar4id dimulai dari proyek kecil untuk membiayai pendidikan sekolah menengah lanjutan untuk siswa yang kurang mampu di wilayah yang kurang berkembang di Indonesia. Merasa bersyukur atas kesempatan yang diterimanya, dan “ketidakpuasan’ tentang keadaan Indonesia sekarang ini, Dimas beraksi dalam berencana untuk memberi siswa yang pandai dan kurang beruntung secara finansial untuk meningkatkan pendidikan mereka. Siswa-siswa ini menghargai pendidikan yang baik, tapi kendala keuangan dan kurangnya kesempatan telah mengakibatkan mereka tetap tinggal dalam kemiskinan, tidak mampu untuk mengabulkan impian dan potensi mereka.

Dengan sumbangan yang dikumpulkan dari teman-teman dan keluarga, Scholar4id menyediakan lima beasiswa untuk siswa-siswa ini untuk membantu membiayai uang sekolah mereka sepanjang masa SMA mereka, dan juga kunjungan ke luar negera di Singapura untuk memperluas cakrawala mereka, dan juga magang di Jakarta disaat liburan sekolah. Dimulai dengan kota-kota miskin di Pontianak dan Solo di Indonesia, Scholar4id mengunjungi beberapa sekolah SMA terkenal untuk memperkenalkan program Scholar4id dan mengundang aplikasi. Program ini sedang diadakan di lima sekolah SMA, SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Pontianak, SMAN 1 Surakarta, SMAN 3 Surakarta, and SMAN 6 Surakarta.

Di tahap pertama program beasiswa ini, siswa siswa harus mengirim esai mereka, nilai UAN, dan laporan dari sekolah, serta bukti ketidakmampuan mereka dalam masalah keuangan. Aplikasi ini akan dinilai kemampuan mereka dalam subyek matematika, bahasa, dan kreativitas mereka. Calon-calon yang dipilih kemudian akan diwawancarai. Dalam penilaian calon-calon tersebut, semangat mereka akan kesempatan yang diberikan dan usaha mereka just dinilai.

Proyek percobaan telah ditentukan untuk dijalankan selama 2.5 tahun dengan dana awal yang dikumpulkan untuk lima beasiswa. Scholar4id telah resmi berbadan hukum dengan nama Yayasan Menggapai Harapan dan ingin mengubahnya menjadi sebuah program finansial mandiri. Dia ingin mengubah Scholar4id dari sebuah organisasi amal menjadi kewirausahaan sosial, sehingga sumbangan bukan satu-satunya sumber pendanaan. Dia sudah mulai melakukan itu dengan memulai layanan perjalanan pendidikan bagi mahasiswa Indonesia yang tertarik untuk datang ke Singapura untuk perjalanan studi (lihat artikel hThe Scholar4id Study Trip – A Social Enterprise to fund scholarships), dan juga akan mengajak baik korporasi di Indonesia maupun yayasan luar negeri, bukan hanya untuk mencari dana, tetapi untuk kegiatan bersama.

Selain beasiswa, Scholar4id juga berencana untuk meluncurkan sebuah proyek baru yang disebut Khatulistiwa, Workshop-plus-Kompetisi yang mengajarkan siswa Berpikir Rasional dan Keterampilan Pemecahan Masalah, yang menyajikan sebuah kasu studi kasus berkonteks lokal untuk dipecahkan mereka bersama dengan Mentor yang ditugaskan. Para Mentor adalah campuran antara Mahasiswa Universitas lokal dan Profesional Indonesia dari Singapura. Siswa harus melakukan presentasi dan  3 yang terbaik akan menyajikan kasus di depan Wakil Walikota Pontianak. Melalui Khatulistiwa, Scholar4id berharap untuk mempengaruhi lebih banyak orang (mahasiswa dan mentor) dan menyediakan platform bagi keduanya untuk berinteraksi antara satu sama lain – untuk Mentor yang berbasis di Singapura untuk memahami Indonesia dari perspektif penduduk setempat yang tinggal di 2nd tier cities dan bagi penduduk setempat untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman di luar negeri.

Rencana jangka panjang adalah untuk mengembangkan perjalanan studi dan mengkombinasikannya dengan program lain (Beasiswa dan Khatulistiwa) dalam rangka menciptakan Summer Camp gaya  Amerika dan akhirnya Summer Camp ASEAN. Rencana tersebut akan dijalankan secara bertahap, dengan rencana langsung pada tahun 2013 untuk mengembangkan Khatulistiwa di Solo dan Pontianak, dan memperkuat basis customer Study Trip.

Setelah menjamin lebih dari setengah dari anggaran yang diproyeksikan, Scholar4id sudah di pertengahan pemilihan kumpulan ke-2 pemenang beasiswa. Test seleksi ke-2 dan ke-3 (Menulis dan Wawancara) diadakan pada 21-23 Desember 2012 di Solo dan Pontianak. Kriteria seleksi tetap sama – siswa tidak mampu yang memiliki potensi besar, tapi daerah pemilihan telah diperluas di mana mencakup satu kota lagi – Klaten, yang merupakan kota kecil 30 menit dari Solo dan 11 Sekolah Menengah Tengah (SMP) lagi.

Untuk informasi lebih lanjut, maupun informasi tentang cara untuk membantu dalam usaha ini, atau mengetahui status beasiswa, Anda bisa lihat di situs-situs tersebut:

Website: scholar4id

Email: info@scholar4id.org

Twitter: @scholar4id

“What is most crucial is the need to educate the people. Our country [Indonesia] is run on a democracy yet the people are not ready for this system… whatever’s lacking in Indonesia, it can all be improved if people are capable to think and accept…” – Dimas Harry Priawan, founder of Scholar4id

Thus was the idea for Scholar4id born. The brainchild of Dimas Harry Priawan, an Indonesian student who received a scholarship to study in Singapore, Scholar4id started as a small project to finance the high-school education of underprivileged students in the less-developed regions of Indonesia. From a feeling of gratitude for the opportunity he got, and the “unsatisfied” feeling about Indonesia’s current situation, Dimas put into action a plan to give smart but needy students a leg up onto the education ladder. These students knew the value of a good education, but financial constraints and a lack of opportunities has kept them shackled to poverty, unable to fulfill their dreams and potential.

With donations gathered from friends and family, Scholar4id provided five scholarships to these students to finance their entire high-school fees, an overseas trip to Singapore to broaden their horizon, and an internship in Jakarta during school holidays. Beginning with the poorer cities of Pontianak and Solo in Indonesia, Scholar4id went to a few top high schools to introduce their programme and invite applications. The first programme ran at these five high schools: SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Pontianak, SMAN 1 Surakarta, SMAN 3 Surakarta, and SMAN 6 Surakarta.

In the first round of scholarships, students had to send in an essay, their UAN score, their school report as well as evidence of a less-priviledged financial background. The applications were assessed on mathematical abilities, language strength, general intelligence, and creativity. The short-listed candidates then went through an interview. In the assessment of the candidates, passion shown for such an opportunity, and the effort put in in the applications, also counted.

The pilot project was set to run for 2.5 years with the initial funds for the current 5 scholarships. Scholar4id is a now a registered Non-Profit Institution  (or Yayasan, in Bahasa Indonesia), as Yayasan Menggapai Harapan in Jakarta and wishes to turn it into a financially self-sustaining programme. He wants to change Scholar4id from a charity-based organization to a social-entrepreneurship, so that donations are not the only source of funding. He has already begun doing that by starting an education travel service for Indonesian students keen to come over to Singapore for a “first look” Study Trip (see Article The Scholar4id Study Trip – A Social Enterprise to fund scholarships), and will also be approaching both corporates in Indonesia and overseas foundations, not just to seek funding, but also to promote joint-activities.

Apart from the scholarship, Scholar4id is also planning to launch a new project called Khatulistiwa, a Workshop-plus-Competition that teaches students Rationale Thinking and Problem Solving Skills, which presents a local context case study for them to solve along with assigned Mentors. The Mentors are a mix between local University Students and Indonesian Professionals from Singapore. Students will have to do a presentation and the Top 3 will present the case in front of the Pontianak Deputy Mayor. Through this Khatulistiwa, Scholar4id hopes to impact more people (students and mentors) and provide a platform for both to engage each other – for Singapore Based Mentors to understand Indonesia from the perspective of locals living in 2nd tier cities and for locals to get exposed to knowledge and overseas experience.

The long-term plan is to develop the Study Trip and combine it with other programs (Scholarship and Khatulistiwa) in order to create a USA-style Summer Camp and eventually ASEAN Summer Camp. The plans will proceed phase-by-phase, with the immediate plan in 2013 to develop Khatulistiwa in Solo and Pontianak ,and strengthen the Study Trip “customer” base.

Having secured more than half of the projected budget, Scholar4id is already in the midst of selecting the 2nd batch of scholarship winners. The 2nd and 3rd Selection Test (Writing and Interview) was held on 21st-23rd December 2012 in Solo and Pontianak. Selection criteria remained the same – needy students possessing great potential, but the selection area has been widened to include one more city – Klaten, which is a smaller city 30 minutes from Solo – and 11 more high schools.

For more information, whether to find out how you can contribute in this effort, or to see if there are more scholarships available, you can check out:

Website: scholar4id

Email: info@scholar4id.org

Twitter: @scholar4id

 

 

 

 

 

About the Author

Weej is an ex-banker who regretted her career choice and is now forcibly trying to do a U-turn into writing and/or education.

Artikel Terbaru

  • Nyongki

    Jempol deh untuk initiatif ini. Mantabz.

comments powered by Disqus