3 Pelajaran dari Bekerja Paruh Waktu

photo credit: Ikayama via photopin cc

photo credit: Ikayama via photopin cc

Six-year-old me loved when adults would ask me what I wanted to do when I grew up. I had an answer rehearsed in my mind: to manage my own restaurant, one located by the beach, no less.

Obviously, that did not happen. (At least not yet.)

I did, however, become a lot of other things: gallery sitter, cashier, waiter, intern (a few times in various companies) before finally finding my niche in the financial industry. Yes, I spent a fair share of my time slaving away at part-time jobs or internships before I landed my first-ever full-time gig. But looking back, it is clear to me now how my positions, however small, helped prepare me for the “real world”, that is my current life as a job-holding, financially-independent adult.

Here are the three lessons I learned from my past part-time jobs and internships:

1. Time management is key.

Holding a part-time job will give you a first taste on how self-discipline helps a long way in effective time-management. Yes, it does not carry any tangible values, but personally, I feel this is one skill any of us must hone before entering the workforce.

Getting used to the concept of self-discipline was rather painful, especially for me, as I was so used to Jakarta’s laid-back, stress-free lifestyle. Once I moved to the Lion City, I created a detailed, colour-coded time table on my class and work schedule, as well as on personal-related activities (laundry! groceries! gym!). Thanks to good planning, I also managed to squeeze some fun-filled time with the mates: going for movies, hanging out at that new bar on the corner, and even dating!

Once you enter the adult world, sometimes having fun seems like a distant idea, an oasis in a desert. But having a structured life early in your career will help you to sustain work-life balance, keeping yourself sane while still advancing in that exciting job of yours.

2. People skills matter.

As the internet generation, by now you should’ve read somewhere having a good emotional quotient (EQ) is as important as having a high intelligence quotient (IQ). They complement each other and both are equally important to have.

Part-time jobs will help you understand why interpersonal skills matter, and ways to sharpen them. This is not something you can pick up in school. As a cashier, I learnt how to handle customers with a cool head, especially the difficult ones. As a waiter, I realised the importance of being courteous and friendly to people from all walks of life. As a gallery sitter, I was trained on how to communicate clearly and effectively.

That’s not all. I also learnt the true meaning of teamwork. As an intern, I worked in a relatively small team, handling corporate communications for the whole Asia Pacific region. It seemed like a daunting task at first, but having a shared goal, good team spirit, creative problem solving and strategic thinking helped us to move forward. Quoting Helen Keller: “Alone we can do so little; together we can do so much.”

3. Just do it. And do it well.

The very first job you have may not be the one you’ve dreamed of. You may need to do boring, menial tasks. But this is not a reason to do well. Part time jobs will teach you two things: first, don’t give up so easily, because there’s always some light at the end of the tunnel. Second, hard work does matter if you want to be successful.

Honestly, I wanted to quit on my first day of being a cashier. What a meaningless job, I thought, such an utter waste of time. Then I realised, I will get what I put into the job. If you see something as meaningless, it will be meaningless indeed. I tried my best, and the fruits of the labour tasted sweet indeed. Within a couple of months, I was given more managerial responsibilities, which included training newcomers, handling inventory and money, and leading the shifts.

 

So remember, although that part-time job of yours pays a meagre salary, there are many skills you can pick up on-the-job that will help you shape your future career. “Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.” – Benjamin Franklin.

Waktu saya berumur enam tahun, saya senang apabila ada orang dewasa yang bertanya: mau jadi apa kalau sudah besar? Jawaban saya: membuka restoran saya sendiri. Kalau bisa di pinggir pantai.

Tentunya saat ini saya belum punya restoran.

Meski begitu, saya tetap mengerjakan hal lain: menjadi penjaga galeri, kasir, pelayan, pemagang (beberapa kali di perusahaan-perusahaan berbeda) sebelum akhirnya menemukan kecocokan saya di industri keuangan. Ya, saya menghabiskan cukup banyak waktu bekerja paruh waktu atau magang sebelum akhirnya mendapat pekerjaan tetap saya yang pertama. Tapi ketika saya melihat ke belakang, saya menyadari bahwa pekerjaan-pekerjaan saya yang dulu, tak peduli sekecil apapun, membantu saya bersiap untuk “dunia nyata”, yaitu hidup saya sekarang sebagai orang dewasa yang mandiri dengan pekerjaan tetap.

Inilah tiga pelajaran yang saya dapatkan dari bekerja paruh waktu dan magang:

1. Manajemen waktu itu penting.

Bekerja paruh waktu akan mengajarkan pentingnya disiplin untuk membantu manajemen waktu yang efektif. Memang kesannya tidak ada manfaat yang bisa dilihat secara nyata, tetapi menurut saya pribadi, ini adalah sebuah keterampilan yang harus kita semua kembangkan sebelum masuk ke dunia kerja.

Membiasakan diri saya disiplin cukup menyakitkan di awal, karena saya sudah sangat terbiasa dengan gaya hidup Jakarta yang santai dan bebas stres. Setelah pindah ke Negeri Singa, saya membuat jadwal kelas, kerja, dan aktivitas pribadi (cuci baju! Belanja ke supermarket! Olahraga!) yang mendetil, lengkap dengan kode warna. Karena perencanaan yang baik, saya juga bisa memasukkan waktu bersenang-senang dengan teman-teman: nonton film, pergi ke bar baru, dan juga pacaran!

Setelah masuk ke dunia kerja, kadang bersenang-senang seakan-akan tidak mungkin, seperti oasis di gurun. Tetapi memiliki hidup yang terstruktur sejak awal kariermu akan membantumu menyeimbangkan pekerjaan dan hidup. Kamu tetap waras secara mental, tetapi juga tetap maju dalam kariermu yang menarik.

2. People skills itu berguna.

Sebagai generasi internet, pasti kamu sudah membaca bahwa mempunyai emotional quotient (EQ) yang baik sama pentingnya dengan intelligence quotient (IQ) yang tinggi. Mereka saling melengkapi dan keduanya sama pentingnya untuk dimiliki.

Bekerja paruh waktu akan membantumu mengerti mengapa interpersonal skills itu berguna, dan juga cara-cara mengasahnya. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu pelajari di sekolah. Sebagai kasir, saya belajar cara mengurus pelanggan dengan kepala dingin, terutama mereka yang lumayan sulit dihadapi. Sebagai pelayan, saya belajar pentingnya menjadi sopan dan ramah ke semua orang tanpa pandang bulu. Sebagai penjaga galeri, saya belajar cara berkomunikasi dengan jelas dan efektif.

Masih ada lagi. Saya juga belajar arti sebenarnya dari teamwork. Sebagai pemagang, saya bekerja di tim yang relatif kecil, mengurus corporate communications untuk wilayah Asia Pasifik. Pada awalnya, memang kesannya cukup sulit, tetapi mempunyai goal yang sama, semangat tim yang baik, kreativitas dalam mengatasi masalah, dan cara berpikir yang strategis membantu kami untuk maju. Mengutip Helen Keller: “Alone we can do so little; together we can do so much.

As the internet generation, by now you should’ve read somewhere having a good emotional quotient (EQ) is as important as having a high intelligence quotient (IQ). They complement each other and both are equally important to have.

3. Lakukan saja. Dan lakukan dengan baik.

Pekerjaan pertamamu mungkin bukan pekerjaan impianmu. Mungkin kamu harus melakukan tugas-tugas yang membosankan. Tapi itu bukanlah alasan untuk tidak melakukannya dengan baik. Bekerja paruh waktu akan mengajarkan dua hal: pertama, jangan cepat menyerah, karena selalu ada cahaya di ujung terowongan. Kedua, bekerja keras sangat penting apabila kamu mau sukses.

Sejujurnya, saya mau berhenti di hari pertama sebagai kasir. Pekerjaan yang tidak ada artinya, saya pikir, buang-buang waktu saja. Tetapi saya menyadari, saya akan mendapatkan apa yang saya berikan ke pekerjaannya. Kalau kamu melihat sesuatu tidak ada artinya, memang tidak ada artinya. Tapi saya berusaha sebaik mungkin, dan hasilnya pun baik. Dalam beberapa bulan, saya mendapat tanggung jawab lebih besar, termasuk melatih anak-anak baru, mengurus inventaris dan uang, serta memimpin shift.

 

Jadi jangan lupa, meskipun bekerja paruh waktu cuma memberikan gaji yang kecil, ada banyak sekali keterampilan yang bisa kamu dapatkan. Keterampilan ini pun akan membantumu di karier masa depanmu. “Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.” – Benjamin Franklin.

About the Author

Zita Setiawan is a shutterbug who currently works in investment communications at a private bank. Originally from Jakarta, she recently graduated from Singapore Management University with a degree in finance and marketing.

Artikel Terbaru

comments powered by Disqus